Pages

Saturday, October 12, 2013

Resensi #9 MESTAKUNG, Rahasia Sukses Meraih Impian





Judul Buku | MESTAKUNG, Rahasia Sukses Meraih Impian
Pengarang | Prof Yohanes Surya, Ph. D.
Tahun Terbit | September 2011
Tebal Buku | 204 Halaman
Penerbit | Kaifa 



Resensi marathon kedua yang alasannya bukan karena mati lampu. Tapi karena tidak mau melewatkan euphoria Timnas kita yang keluar sebagai juara dengan mengalahkan Korea Selatan. Selamat yaa..

MESTAKUNG men! Semesta mendukung, dengan Izin Allah. Bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-hambaNya. Karenanya konsep MESTAKUNG ini penting. Bahkan terkonsep sangat jelas dalam hukum Fisika. Disebutkan suatu kondisi titik kritis dapat mengatur semesta untuk mewujudkan sesuatu.

Gampangnya. Lu kepepet, lu tetap yakin dan nggak nyerah, maka lu akan mendapatkan bantuan dari arah yang tidak terduga. Semesta secara nggak langsung akan membantu lu menemukan jawaban dari usaha yang udah lakuin dengan mati-matian.

Dalam konsep Fisika dijelaskan. Kondisi air mendidih di suhu 100 drajat celcius, air masih belum menunjukkan perubahan apapun, tetapi ketika suhu air mencapai 34 drajat celcius. Terjadilah keanehan. Air membentuk kondisi kritis, yaitu memiliki 2 wujud cair dan gas secara bersamaan. Pada kondisi ini, ketika suhu air dinaikkan sedikit saja, terjadilah proses pengaturan diri dalam molekul-molekul tersebut. Seluruh molekul air mengatur drnya secara serentak mengubah wujud air menjadi uap air (hal 24-25)

Prof Yohanes Surya Ph.D rupaya memegang teguh prinsip tersebut. Buku ini menceritakan tentang perjuangan beliau membawa para ksatria olimpiade Fisika untuk bertanding, mempersiapkan diri mereka dengan sebaik mungkin, sampai akhirnya beliau bisa membawa nama harum Indonesia di dunia sebagai juara. Terakhir, usaha beliau merambah semakin pesat, bahkan sekarang berwujud menjadi sebuah bangunan Surya Institut.

Salah satu guru yang saya sangat respek dengannya, ya Bapak ini. Seorang guru yang tidak hanya mendidik maupun mengajar, namun juga bersedia ‘memutar otak’ demi kesuksesan anak didiknya. *angkat topi

Awalnya saya mengira perjalanan pak Yohanes sangat mulus, mengingat betapa brilian dan kreatifnya beliau terhadap Fisika. Namun ternyata tidak jauh berbeda dengan orang hebat lainnya, mengawalinya dari nol dan tertatih-tatih.

Jujur saya terharu membaca buku ini. Katakanlah ini subjektif, karena memang saya orang Fisika. Bagimana Fisika bisa menuntun banyak orang dan seluruh semesta untuk terus memperjuangkannya, sesulit apapun itu. Bagaimana seseorang menjadikan Fisika sebagai harapan tumpuan masa depannya.

Termasuk tentang keberadaan ‘orang-orang’ yang masih peduli dengan pendidikan di Indonesia aka Pak Yohanes dkk,  sukses bikin mrembes dan terasa menghangatkan hati.

Satu-satunya kekurangan buku ini, cerita yang disajikan kurang panjang. Saya masih ingin mengatahui tentang perjuangan pak Yohanes ke depannya. Saya pikir Bapak mampu menularkan semangat Fisika kepada semua orang, terutama yang sudah terlanjur menganggap Fisika sebagai monster. 

Saya tunggu buku-buku Bapak yang Fisika banget, namun menginspirasi. Mari bermimpi dan bermestakung, jangan lupa disertai dengan harapan dan keyakinan yang kuat pada kekuasaan Allah. Karena dialah, semesta bisa dengan mudah akan mendukung mimpi-mimpimu. :)


Friday, October 11, 2013

Resensi #8 Circa




Judul Buku : CIRCA
Pengarang : SITTA KARINA
Tebal Halaman : 216 Halaman
Tahun Terbit : Agustus 2013, Cetakan Kedua
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Circa adalah brand kosmetik remaja yang memiliki lisensi di Indonesia. Sementara Almashira Rais, murid kelas 2 SMA. Jago bermain tennis, punya hobby membuat scrapbook, dan bercita-cita menjadi ahli dermatologi yang hebat.

Suatu hari, Alma berkesempatan untuk magang di Circa. Kedatangannya ke Pabrik Circa untuk yang pertama kalinya mempertemukannya dengan Genta Ramya Sasmitro. Seorang mahasiswa yang terpaksa magang demi lulus dari mata kuliah riset pemasaran, dirinya ogah jika harus mengulang semester depan. Dan jangan sampai mendapatkan cap bodoh dari teman yang sekarang manjadi musuhnya, Aldebaran Raiz—Kakak Alma.

Kemudian, Sailendra—Sai yang yang diam-diam diharapakan Alma untuk tidak sekedar menjadi sahabatnya ataupun partner-in-crimenya bermain Tennis. Tapi anehnya ketika Sai justru nembak Alma, Alma malah ragu, no butterfly in her stomach, after all.

Di Circa, Alma mulai merancang berbagai rencana untuk masa depannya. Di Circa, Genta mulai tobat dari rasa malasnya selama ini sejak didaulat untuk mengerjakan proyek penting bersama Alma. Di Circa, banyak masa lalu yang awalnya tidak Alma ketahui, terkuak di sini. Termasuk kenapa Alde begitu membenci Genta, lalu apa hubungannya dengan Anthi Kandjati di masa lalu.

**

Awalnya saya pikir ini novel teenlit Sitta Karina yang baru. Eh, ternyata udah cetakan ke dua aja. Haha

Ini pertama kalinya saya membaca karya Sitta selain yang ada keluarga Hanafiahnya. Meskipun sempat disebut sekali, bahwa pemiliki perusahaan Circa adalah rekan bisnisnya keluarga Hanafiah. Haha teteup ya pamornya keluarga Hanafiah ini tidak berkurang di seluruh tulisan Sitta Karina.

Saya menikmati secara keseluruhan cerita. Karakter Alma ini memang dibuat tidak sempurna, tapi keberuntungan yang dia dapatkan, astagaaa mungkin sukses bikin iri seluruh anak SMA di Indonesia. Jadi penggagas mading, jago main Tennis, punya teman satu geng yang berprestasi semua, bisa magang di perusahaan kosmetik Circa, bahkan di akhir cerita Alma jadi karyawan tetap di Circa dengan jam fleksibel. Haha iya dia memang beruntung, dan jangan pada iri ya.

Jujur, karakter Alma ini gahool banget soal brand dan fahion dunia. Saya aja sampai geleng-geleng karena nggak ngertinya.

Jadi saya menyebut karakter Alma ini bukan yang perfeksionis, tapi yang idealis untuk karakter anak SMA. Tapi salutlah sama seabreg kegiatan positif yang dia ikuti, bisa banget dicontoh sama anak-anak yang lain, bahkan Genta aja bisa ketularan energi positifnya si Alma ini.

Dari segi cerita, agak melambat di awal namun sedikit cepat di akhir dengan alur maju mundur. Saya menikmatinya di awal namun merasa agak kurang gereget di akhir. Bagaimana Genta mengalami perjalanan titik balik itu hmm entah, feelingnya kurang. Saya masih merasa ‘ujug-ujug’. 

Perjuangan Genta mempertahankan Circa pun masih terasa kurang ‘perjuangannya’. Kesimpulannya, penyelesaian konfliknya kurang, menurut saya sih.

Dan yang agak janggal buat saya itu hmm kenapa Almashira nggak tahu perihal persahabatan Mamanya dengan Mama Genta. Kenapa saat Alde sama Genta masih temenan, Alde nggak pernah cerita soal itu sama Alma? Kecuali kalau mereka musuhannya udah lama.

Lalu yang menjelaskan rumus Kimia. Hmm meski udah agak-agak lupa. Tapi percakapan antara Alma (MoiCirca)  dengan Farri (MyCHEMICALromance) (hal 124) di Yahoo Messenger untuk mengajarinya Titrasi Asam Basa.

myCHEMICALromance: buat persamaan reaksinya dulu jadi begini: NaCl (aq) + H2O (l), cari mol HCl, lalu berdasarkan koefisien reaksinya, cari mol NaOH, di mana mol NaOH = mol HCl. 

MoiCirca: Abis itu tinggal hitung kemolaran NaOH pake rumus M= n/V?

Itu bukanlah cara untuk titrasi Asam Basa.heuheu.

Terkait settingannya, jangan bayangkan ini terjadi di luar Negeri ya. Seperti biasa, Sitta menciptakan setting dengan imajinasinya, Indonesia rasa luar Negeri. Karena saya pribadi memang tidak merasakan udara-udara Indonesia di novel ini. Terlebih dengan banyak istilah kosmetik yang English semua, nggak ngerti deh, asli. Haha katrok abis.

Masih menjadi ciri khas Sitta menyelipkan bahasa inggris diantara kalimat yang dirangkai. Kalau yang bersifat deskritif masih okelah. Tapi yang percakapan antar anak SMA, pakai English? Kecuali sama temennya yang dikatakan keturunan bule, astagaaa *melongo. Makin berasa deh ini bukan di Indonesia! Haha oke, mungkin ini karena saya pribadi yang jaraaaang banget ngoceh inggris bareng temen-temen SMA saya. haha.

Setting dan Bahasa ini bisa jadi kelebihan sekaligus kekurangan. Tergantung bagaimana pembaca menginterpretasi karya Sitta. Bagi yang ber’lidah’ lokal mungkin akan merasa gerah loh.hehe
Saya paling suka dengan pemakaian namanya, nggak pasaran, keren deh. Dan juga beberapa tips yang terselip di awal chapter. Tips menaburkan bedak powder pada jenis rambut berminyak yang nggak sempat keramas, itu bermanfaat banget.hohoho

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati. Untuk para remaja, coba deh tiru semangatnya Almashira ini, berpikiran positif dan bersikap produktif. J

**

If a guy give you your favorite kind of make up without asking first, then you’ve successfully found Mr. Right.

Boleh nih, dipakai buat kode-kodean.haha*kedip kedip







Wednesday, October 9, 2013

Resensi #7 Joker, ada lelucon di setiap luka




Judul : Joker (Ada Lelucon di Setiap Duka)
Penulis : Valiant Budi
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 238 Hal (cetakan kedua, 2011)


Dimas suka Alia, Alia sering sekali bersama Brama (sampai kayak anak kembar). Tapi Alia hanya menganggap Dimas sebagai pelarian. Brama suka Mauri sampai bela-belain pindah dari Jakarta ke Bandung, tapi Mauri malah memandang rendah pada Brama, dan waktu tengah berpacaran dengan Roman. Nah, Alia ini suka sama Roman. suatu hari Alia mengajak Brama taruhan, jika Brama bisa membuat Mauri jatuh cinta, maka Alia akan pergi dari hidup Brama, selamanya. 


Alur sederhananya seperti itu. Dan pemersatu di antara ke empat karakter utama itu ialah radio White Wheel dan dunia penyiaran.

Saya tidak akan terlalu banyak membuat sinopsisnya, membacanya sendiri akan membuatmu juga ternganga sepertiku. Takjub dengan cerita seedan ini endingnya.haha

Saya memutuskan membeli buku ini setelah membaca kata pengantar oleh mbak Windy, salah satu penulis favorit saya yang terkenal dengan bahasa Indonesianya yang ber EYD dan santun.

Benar, saya terprovokasi.

Terlebih judulnya Joker, seperti kata mbak Windy.

“Apa yang sangat ingin kau lihat ketika sedang bercermin? Sesoosok dirimu yang sebenarnya atau justru bayangan dirimu yang ingin ditampilkan di depan orang lain?”

Nah, siapa yang tidak tergugah untuk segera membacanya, hayo?

Saya punya ekspektasi yang besar terhadap buku ini. Terlebih penulisnya, bang Valiant Budy termasuk dalam nominator penulis muda berbakat KHATULISTIWA LITERARY AWARD 2007

Sayangnya, buku ini tidak seperti yang saya pikirkan awalnya. Buku ini adalah sejenis buku yang jujur, membuat saya agak berat ketika membacanya.

Tapi saya penasaran, tapi saya malas membacanya sampai tuntas. Jadinya galau. Dan akhirnya setelah menimbang lama dan menelantarkannya di atas meja bersama jejeran buku lainnya.

Sampai, saya berpikir.

“Setidaknya kalau buku ini benar-benar jelek, saya harus tahu letak jeleknya ada di mana. Dan untuk mengetahui fakta tersebut, mau tidak mau saya harus membacanya hingga tuntas”

Well, saya lalu benar-benar membacanya.

Dan komentar pertama saya, endingnya gila. Haha benar-benar tidak terduga. Dari sanalah judul Joker ini tercipta. Saya tercengang dan meringis dalam waktu yang bersamaan. Haha

"Bahasanya terlalu jujur, barangkali terlalu liar tentang dunia yang tidak saya ketahui"

Menamatkannya membuat saya tersadar, ternyata ada loh dunia edan di sekitar saya yang saya sendiri tidak pernah tahu. Meskipun saya tidak suka, tidak terbiasa, namun tidak lantas membuat dunia itu terhapus dengan sendirinya.

Tidak.

Dunia para penyiar yang hidupnya tidak selempeng hidup kita, bisa jadi di luar sana benar-benar ada. Tentang kebebasan, tentang moral yang sudah tidak lagi bisa dikontrol, tentang kehidupan bar, tentang banyak hal yang selama ini bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiran saya.

Itulah, Joker.

Saya ternganga dengan alur, plot, dan ide yang coba di eksplore. Saya belajar memahami keberadaan dunia di dalam Joker ini. Dunia yang keras.

Terdapat banyak kalimat yang menurut saya kurang etis untuk disebutkan. Bahkan adegan yang hanya bisa dikonsumsi oleh orang dewasa. Dan alangkah baiknya jika novel ini diberi label khusus, supaya tidak bisa dikonsumsi oleh anak-anak.

**

"Sempurna bukan berarti gak ada cacat. Kita sebagai manusia terlalu sibuk membuat patokan sempurna, terlalu sibuk membuat pagar-pagar standar, jadinya segala sesuatu yang nggak sesuai dengan patokan dan pagar-pagar tadi, kita anggap cacat dan di bawah standar. Justru adanya cacat lah yang membuat sesuatu itu begitu sempurna."

Tuesday, October 8, 2013

Resensi #6 : Andaikan Shalat Sebuah Pesta




Judul | Andaikan Shalat Sebuah Pesta
Penulis | Kang Yadi
Penerbit | PT Lingkar Pena Kreativa
Tahun Terbit | 2007
Tebal Buku | 124 Halaman

Karena shalat memiliki banyak definisi bagi seorang muslim, salah satunya ialah sebagai bukti cinta.

**

Seperti yang pernah dipaparkan oleh seorang di Tumblr *eh semoga bukan sara ketika menulis platform blog lain di sini.hekhekhek*, bahwa dia pribadi belum pernah merasakan shalat se khusu’ mungkin, khusu’ yang membuat dia melupakan seluruh kesenangan dunia. Saya pribadi menyetujui itu, saya paling banter merasakan shalat yang menenangkan jiwa, yang setelah melaksanakannya beban hidup yang awalnya sebesar gunung pelan-pelan mulai nampak seperti butiran pasir.

Iya, masih cetek. Nikmat shalat yang saya rasakan masih seputar itu. Ketika ada suara yang berisik di sekitar saya, saya masih bisa mendengarnya dengan baik. Huhuhu.. Shalat yang khusu’ sama sekali bukan perkara mudah, setidaknya buat saya. Karenanya saya agak risih sih, ketika ada yang menunaikan shalat masih ada suara-suara lagu maupun video yang agak keras. Sungguh. Iya, ini perkara khusu’. Dan saya tidak bisa dengan se-cool mungkin mengatakan.

“Nggak masalah kok, saya bisa shalat dengan khusu’” hmm benar-benar tidak bisa seperti itu.huhu

Belum lagi tatkala ‘futur’, iman semakin turun, dan semangat berdekatan dengan Allah mulai semakin tergerus. Sudah, semakin kosong saja shalatnya.

Dan buku ini, buku yang saya beli karena tergiur dengan judulnya yang memprovokasi, saya katakan buku yang kece.

Andaikan shalat sebuah pesta.

Bahkan sebelum membaca buku tersebut, saya tidak pernah berpikiran sejauh itu. Selama ini siapa yang tidak tahu bahwa shalat adalah tiang agama, bahwa shalat hukumnya wajib dan tidak bisa ditinggalkan dalam kondisi apapun, bahwa jika tidak shalat nanti akan masuk neraka. Shalat nampak seperti ibadah wajib yang membosankan, provokasi tentang ajakan menunaikan shalat sebatas hembusan kalimat yang melewati kuping kiri, lalu keluar dari kuping kanan. Tidak membekas.

Berbeda ketika persepsi tersebut diubah. Bagaimana jika shalat adalah sebuah pesta? undangan langsung yang berasal dari baginda raja pemilik seluruh alam semesta, otomatis pun kita akan senang mendatangi pesta tersebut bukan? Bahkan tidak lupa dengan keputusan mengenakan baju terbaik yang dimiliki. Iya, andaikan shalat sebuah pesta.

Buku ini serupa racun yang menyenangkan, serupa obat bius yang membawa cairan positif ke dalam tubuh. Dengan bahasa ringan yang mudah dimengerti, penulis berusaha membisikkan pada pembaca untuk lebih giat lagi menunaikan shalat. Ibadah pertama yang akan dipertanyakan di akhirat kelak.

Tidak hanya itu, pembaca juga akan diberitahu bagaimana supaya shalat yang ditunaikan menjadi bergizi, ditambah menjadi obat penyembuh bagi yang melaksanakannya. Termasuk supaya kita bisa mencapai kondisi khusu' ketika menunaikan shalat.

Kekurangan buku ini hanya satu, kurang tebal. Padahal, dengan judul dan isi yang cukup provokatif, penulis bisa menceritakan lebih banyak lagi tentang keindahan dan keistimewaan dalam menunaikan shalat.

**

Sesungguhnya shalat adalah sebuah pesta yang diselenggarakan oleh sang Raja, yaitu Allah Swt. Dia mengundang seluruh umat manusia untuk shalat yang di dalamnya terdapat berbagai kelezatan dan kenikmatan yang tidak pernah kering dan membosankan. (Al-Ghazali)

Rasanya, tidak ada alasan lagi untuk mengabaikan shalat, kan?
PS. Ketika futur melanda, ingatlah kalimat ajaib di atas, insyaAllah manjur.

Popular Posts